Skip to content

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS “PENYAKIT MENULAR SEKSUAL”

April 23, 2013

MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS

“PENYAKIT MENULAR SEKSUAL”

 

DOSEN PEMBIMBING :

ESTI YULIANI, SST, SPd, M.Kes

 

 

PENYUSUN :

KELOMPOK

  1. 1.              AINUN FITANTI                             (11.959)
  2. 2.              ERLINDA YULIA PURNAMA S (11.966)
  3. 3.              YUNITA PUSPITA SARI               (11.998)
  4. 4.              ENI FITRIA RAHAYU                   (11.1010)
  5. 5.              VIVIN NUR FAIDAH                     (11.1037)

 

 

 

AKADEMI KEBIDANAN

PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO

2012/2013

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT. Atas rahmat,taufik dan hidayah-nya sehingga kami dapat menyusun makalah yang berjudul “PENYAKIT MENULAR SEKSUAL” ini dengan baik.

   Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas perkuliahan ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS,selain itu dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang masalah-masalah kebidanan di masyarakat .

            Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu ESTI YULIANI, SST, Spd, M.Kes yang telah membimbing dalam pembuatan makalah ini serta teman-teman yang telah ikut berpartisipasi.

   Kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kekurangan dan kesalahan, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi perbaikan makalah selanjutnya.

   Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca sebagai mana yang di harapkan.

Bojonegoro,22 Maret 2013

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Upaya besar bangsa Indonesia dalam meluruskan kembali arah pembangunan nasional yang telah dilaksanakan dalam tiga dasawarsa terakhir ini menuntut revormasi total kebijakan pembangunan dalam segala bidang. Untuk meningkatkan pembangunan kesehatan yang merupakan modal utama pembangunan nasional, tinjauan kembali terhadap kebijakan pembangunan kesehatan merupakan keharusan.

Masalah kerusakan lingkungan hidup manusia di bumi telah diketahui secara umum dan berdampak merugikan kesehatan ibu dan bayi sehingga sehingga mengakibatkan kematian. Masalah kebidanan di masyarakat merupakan masalah yang kompleks dan perlu peningkatan penanganan secara lintas program, lintas sektor dan lintas disiplin ilmu serta dengan memperbaiki faktor sosial budaya. Tanpa kerja sama dan pemantapan dengan organisasi profesi (IDI, POGI, IDAI, IBI dan lain-lain), serta dengan “stake holder” permasalahan tidak akan terselesaikan.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah menemukan jenis-jenis Penyakit Menular Seksual dan melakukan penanggulangan secara promotif dan preventif (dalam lingkup kebidanan komunitas).

1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah yang akan dibahas yaitu :
a. Menjelaskan pengertian Penyakit Menular Seksual
b. Memaparkan cara penularan Penyakit Menular Seksual

c. Memaparkan macam-macam Penyakit Menular Seksual

d. Menjelaskan strategi pemecahan penyakit menular seksual

 

BAB II

PENGKAJIAN MATERI

2.1.PENGERTIAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS)

PMS adalah singkatan dari Penyakit Menular Seksual, yang berarti suatu infeksi atau penyakit yang kebanyakan ditularkan melalui hubungan seksual (oral, anal atau lewat vagina).

PMS juga diartikan sebagai penyakit kelamin, atau infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Harus diperhatikan bahwa PMS menyerang sekitar alat kelamin tapi gejalanya dapat muncul dan menyerang mata, mulut, saluran pencernaan, hati, otak, dan organ tubuh lainnya.

2.2. ANGKA-ANGKA KEJADIAN PMS

  1. Angka kesakitan sifillis pada tahun 1996 adalah 4,71 per 100.000 penduduk.
  2. Gonokokus pada tahun 1996 tahun 1996, angka kesakitannya 11,1 per 100.000 penduduk
  3.  AIDS :

 Laki-laki : 64,6 %

  Perempuan : 31,9 %

  1.  Lain-lain : 3,5 %

  Usia 20-29 thn : 45,74 %

  Usia 30-39 thn : 27,71 %

  Usia 40-49 thn : 9,35 %

  Usia < 1 thn : 0,33 %

  Usia 1-4 thn : 0,33 %

(www.pikiranrakyat.com)

2.3. CIRI-CIRI PMS

a.    Penularan penyakit tidak selalu harus melalui hubungan kelamin.

b.   Penyakit dapat terjadi pada orang-orang yang belum pernah melakukan hubungan kelamin

c.   Sebagian penderita adalah akibat korban keadaan diluar kemampuan mereka, dalam arti mereka sudah berusaha sepenuhnya untuk tidak mendapat penyakit, tetapi kenyataan masih juga terjangkit.

(Adhi Jduanda, 2007 : 361)

 2.4. EPIDEMIOLOGI PMS

a.       Banyak kasus yang tidak dilaporkan, karena belum ada UU yang mengharuskan melaporkan setiap kasus baru PMS yang ditemukan.

b.      Bila ada laporan, sistem pelaporan yang berlaku belum seragam.

c.       Fasilitas diagnostik yang ada sekarang ini kurang sempurna sehingga seringkali terjadi salah diagnostic dan penanganannya.

d.      Banyak kasus yang asimtomatik (tanpa gejala yang khas) terutama penderita wanita.

e.       Pengontrolan terhadap PMS  ini belum berjalan baik.

(Adhi Jduanda, 2007 : 361)

 

 

2.5.  RANTAI PENULARAN PMS

Virus, bakteri, protozoa, parasit dan jamur Manusia, bahan lain yang tercemar kuman Penis, vagina, lubang pantat, kulit yang terluka, darah, selaput lendir. Yang paling umum adalah hubungan seks (penis-vagina, penis-lubang pantat, mulut-lubang pantat, mulut-vagina, mulut-penis). Hubungan seks, pemakaian jarum suntik secara bersama-sama dari orang yang terkena PMS ke orang lainnya (obat suntik terlarang, transfusi darah yang tidak steril, jarum tato dan lainnya). Orang yang berperilaku seks tidak aman. Makin banyak pasangan seks, makin tinggi kemungkinan terkena PMS dari orang yang sudah tertular.

2.6. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MENINGKATNYA PMS

  1. Perubahan demografik secara luar biasa

 Peledakan jumlah penduduk

 Pergerakan masyarakat yang bertambah, dengan berbagai alasan, misalnya: pekerjaan, liburan, pariwisata, rapat, kongres atau seminar

  1. Kemajuan sosial ekonomi
  2.  Perubahan sikap dan tindakan akibat perubahan-perubahan demografi diatas, terutama dalam bidang agraris dan moral.
  3. Kelalaian beberapa negara dalam pemberian kesehatan dan pendidikan seks khususnya
  4.  Perasaan aman pada penderita karena pemakaian obat antibiotik dan kontrasepsi
  5. Akibat pemakaian obat antibiotik tanpa petunjukyang sebenarnya
  6. Fasilitas kesehatan yang kurang memadai, terutama fasilitas laboratorium dan klinik pengobatan

(Adhi Jduanda, 2007 : 361)

2.7. PENCEGAHAN

1. Patahkan salah satu rantai penularan
2. Pakailah kondom saat berhubungan seksual dengan orang yang beresiko atau telah terkena PMS.

2.8. MACAM PENYEBAB PMS

PMS dapat disebabkan oleh beberapa organisme penyebab, diantaranya yaitu :

1.      Infeksi bakteri

  1. Neisseria gonorroeae (gonore)
  2.  Chlamidia trachomatis (limfogranuloma venerum)
  3.  Treponema pallidum (sifillis, kondilo malatum)
  4. Ureaplasma urealyticum (infeksi mikoplasma)
  5. Haemophillus ducrei (chancroid)
  6. Calymmatobacterium granulomatis (granuloma inguinale)
  7.  Spesies shigella
  8.  Gardanela vaginalis (vaginitis)

2.      Infeksi virus

  1. Virusherper simpleks (HSV)
  2.     Hepatitis A, B, C
  3.  Sitomegalovirus (infeksi CMV)
  4. Human papilomavirus (kulit genital, kondiloma akuminata)
  5.   Moloskum kontangiosum
  6. Human immunodeficiency virus (HIV)

3.      Infeksi protozoa

  1. Trichomonas vaginalis
  2. Entamoba histolyca
  3. Giardia lambia

4.      Parasit

  1. Phthirus pubis (kutu kepiting)
  2.  Sarcoples scabies (tungau scabies)

(M William Schwartz, 2004 : 700)

2.9. MACAM-MACAM PMS

Penyakit menular seksual yang sering terjadi di lingkungan masyarakat, dintaranya yaitu :

1. GONORRHOE

a.    Pengertian

    Gonore adalah penyakit seksual yang paling sering terjadi disebabkan oleh bakteri Neisseria Gonorrhoeae, kokus gram negative kecil berbentuk ginjal yang tersusun berpasangan.

(Anna Glaiser, 2005 : 303)

b. Tanda dan gejala

1. Pada Pria

  Gejala terlihat dalam waktu 2-10 hari setelah hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi, gejala-gejala tersebut, antara lain :

a)      Disuria dan rabas uretra mukopurulen dalam jumlah besar.

(Anna Glasier,2005 : 306)

b)      Uretritis

c)        Keluar nanah di uretra

d)     Rasa gatal, panas atau sakit di ujung meatus terutama sewaktu berkemih.

(Jan Tambayong, 2000: 196)

e)      Gonore faring akibat kontak seksual urogenital umumnya asimtomatik tetapi kadang-kadang pasien mengeluh nyeri tenggorokan

f)        Infeksi rectum diperoleh melalui hubungan seksual anus pada homoseksual, sering asimtomatik tetapi mungkin dijumpai gambaran proktitis (rabas anus,nyeri perdarahan, tenesmus)

(Anna Glasier, 2005 :306)

2.  Pada wanita

Sebagian besar (80%) dengan gonore non / complikata tidak memperlihatkan gejala, namun beberapa mungkin mengeluh peningkatan rabas vagina dan disuria, eksudat mukopurulen dari os serviks,  Infeksi pada kelenjar pada uretra.

(Anna Glasier, 2005 :306)

c. Komplikasi

1. pada laki-laki dewasa :

  1. Hidronekrosis
  2. Epididimis
  3.  Arthritis
  4. endokarditis bakteri
  5. meningitis
  6. konjungtivitis

(Jan Tambayong, 2000 : 197)

  1.  epididimorchitis

(Anna Glasier,2005 : 306)

  1.  uretritis

 i.  prostatitis

(M. William Schwarts, 2004 : 701)

2. pada perempuan dewasa :

  1. penyakit radang panggul
  2.   bartholinitis
  3.  vulvovaginitis

(Anna Glasier, 2005 : 196)

  1.  pembengkakan dan nyeri pada labia
  2.  perihepatitis dan sindrom fitz-hug-curtis

(M. William Schwarts, 2004 : 701)

3.  Dampak pada kehamilan dan bayi

Gonore mempunyai dampak yang buruk terhadap kehamilan. Ibu hamil yang menderita gonore dapat menularkan infeksi tersebut melalui plasenta. Dampak tersebut antara lain :

  1. Aborsi spontan septic
  2.  Preterm
  3.  Premature
  4. Korioamnionitis
  5.  Infeksi post partum

(M. William Schwarts, 2004 : 700)

Pada 25-50 % kasus gonore ditularkan ke janin pada kelahiran jika ibu dibiarkan tidak diterapi, sehingga dapat menyebabkan efek negative terhadapjanin / bayi antara lain :

a)      Neonatal gonococal arthritis

b)      Septicemia

c)      Meningitis

d)     Vaginitis

e)      Abses pada kulit kepala

(Bobak, 2004 : 887-888)

f)        Oftalmiagonorea

(William Rayburn, 2001: 111)

  1.  Terapi / pengobatan
  2.  pada dewasa
  3. pennisilline
  4. cefriaxone ( untuk gonore tanpa komplikasi pada ibu hamil) IM 125 mg atau oral cefixime (400 mg)
  5. spectinomycin dengan eritromicyn (untuk wanita yang alergi terhadap penisilin atau antibiotic beta-laktam) 2 gram/12jam.
  6. Dipantau selama 24-48jam. Jika ada kemajusn diteruskan dengan :
  7. Cefixime 400 mg /2 kali sehari
  8. Ciprofloxacin (tidak hamil)

Untuk gonore dengan endokarditis terapi selama 4 minggu

Untuk gonore meningitis selama 10-14 hari

  1.  pada neonatus
  2. cefriaxone 25-50mg/kg IV/IM

(F. Gary Cunningham,2001 : 1492)

  1. terapimata eritromisin pada saat kelahiran
  2. karioamnitis → ampisilin/seftriaxone

(Neville F.Hacker,2001: 201)

2.   KLAMIDIA TRACHOMATIS

Clamidia trachomatis merupakan penyakit menular seksual yang paling sering dijumpai pada orang dewasa dan remaja, paling sering dijumpai pada wanita yang aktif secara seksual diantara usia 12 dan 19tahun.

(Jan Tambayong, 2000 : 196)

a. Tanda dan gejala

1. Pada pria

a)      Timbul rabas uretra mukoid atau mukopurulen

b)      Disuria

  1.  Pada wanita

a)      Sebagian besar wanita dengan infeksi klamidia di servik tidak memperlihatkan gejala tetapi sebagian kecil mengeluh rabas vagina dan disuria

b)      Mungkin tidak terdapat tanda-tanda spesifik, servik mungkin tampak normal / mungkin terjadi endoservitis disertai pengeluaran mukopus dari os.

c)      Nyeri tekanan adneksa yang ringan

(Anna Glasier, 2005 : 309 – 310)

b.  Faktor resiko

1.  usia muda

a)      pasangan seksual yang banyak

b)      penggunaan kontrasepsi oral

c)      ras (angka pravalensi lebih tinggi pada Afro Amerika)

c.Komplikasi

1. Pada pria

a)      Uretritis

b)      Epidedimitis

c)      Proktitis

d)     Sindromreiter (konjungtivitis, dermatitis, uretritis dan arthritis)

  1. Pada wanita

a)      Servisitis

b)      Uretritis

c)      Penyakit peradangan pelvis

d)     Terjadi perinerpatitis, timbul nyeri akut di hipokondrium kanan semakin terasa apabila pasien menarik napas dalam-dalam, mual, anoreksia dan demam ringan.

(Anna Glasier, 2005 : 310)

d. Penegakan diagnosis

  1. Biakan pada sikloheksamid untuk sel Mc. Coy, akan tetapi cara ini mahal,lambat dan penyediaan terbatas.
  2. Uji deteksi antigen yang cepat misalnya chlamidiozyme atau microtrek telah popular karena dapat dipercaya, tidakmahal dan cepat.

(Neville F. Hacker,2001: 203)

e. Dampak clamidia trachomatis pada kehamilan

Ibu hamil yang terkenai nfeksi clamidia trachomatis mempunyai kemungkinan melahirkan anak dengan konjungtivitis dan pneumonitis.

f. Terapi

  1. Pemberian eritromisin dapat pada kehamilan dan pada neonatus kalau terjadi pneumonia atau otitis media
  2. Kontak seksual harus dilacak dan diterapi secara empirik.

(Neville F. Hacker,2001: 203)

  1. Golongan tetrasiklin dan makrolid

(Anna Glasier, 2005 : 311)

 

3. HERPES SIMPLEKS / GENITALIS

a. Pengertian

a)      Virus herpes simpleks adalah anggota dari keluarga virus herpes DNA dan ditularkan lewat kontak mukokutaneus yang intim.

(Neville F. Hacker , 2001: 199)

b)      Herpes simpleks adalah infeksi akut oleh virus herpes simplek ( V. Herpes Hominls) tipe I atau tipe II yang ditandai dengan adanya vesikel berkelompok di atas kulit yang eritematosa di daerah muka kutan.

(Arif Mansjoer jilid II, 2000 : 151)

 

c)      Virus herpes genitalia adalah virus herpes simpleks tipe I dan II

(M. William Schwarts, 2004 : 701)

b.Gejala klinis

Masa inkubasi : 3-7 hari

1. infeksi primer

Berlangsung kira-kira 3 mgg dan sering disertai gejala sistemik, misalnya :

a)      Demam

b)      Malaise

c)      Anoreksia

d)     Pembengkakan kelenjar getah bening regional

e)      Vesikel berkelompok diatas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen → ulserasi dangkal

2. fase laten

a)      Tidak ditemukan gejala klinis tetapi VHS dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis.

b)      Penularan dapat terjadi pada fase ini,akibat pelepasan virus terus berlangsung meskipun dalam jumlah sedikit.

3. infeksi rekuren

reaktivitas VHS pada ganglion dorsalis mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinis yang dapat dipacu oleh :

a)      Trauma fisik        : – demam

  - infeksi

  - kurang tidur

 - hubungan seks

b)       Trauma psikis     : gangguan emosional

c)       Obat-obatan               : – kortikoseteroid

  - imuno supresif

d)     Menstruasi

e)      Makan dan minuman yang merangsang

(Arif Mansjoer jilid II,2000: 151 -152)

c.gejala klinis herpes genitalis

  1. Vesikel tunggal atau multiple
  2. Vesikel pecah spontan setelah 24-72 jam
  3. Ulkus merah
  4. Nyeri, tetapi sembuh sendiri
  5. Lesi pada preputium, glans penis, bokong dan pada paha bagian dalam
  6. Disuria
  7. Demam
  8. Edema
  9. Limfadenopati bilateral

(Jan Tambayong, 2000 : 199)

  1. Dampak pada kehamilan
  2. Herpes genitalia primer

Pasien yang terkena herpes primer pada kehamilan menghadapi peningkatan resiko komplikasi obstetric dan neonatal, antara lain :

1. aborsi spontan

2. IUGR

3. persalinankurang bulan

(Neville F.Hacker,2001: 199)

sedangkan kelainan yang timbul pada bayi dapat berupa :

1. ensefalopati

2. keratokonjungtivitis

3. hepatitis

4. lesipadakulit

(Arif Mansjoer, 2000 : 152)

  1.  Pemeriksaan penunjang

Percobaan Tzantk dengan pewarnaan Gremsa dari bahan vesikel dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan bahan inklusi intranuklear.

(Arif Mansjoer, 2000 : 152)

  1. Diagnosa banding
    1. Impetigo vesikobulasa
    2. Ulkusdurum
    3. Ulkus mole
    4. Ulkus mikstum
    5.  Penatalaksanaan
      1. medikamentosa
      2. belum ada terapi radikal
      3. pada episode pertama, berikan :

a)      Asiklovir 200 mg peroral 5 x/hr selama 7 hr atau

b)      Asiklovir 5 mg/kgBB. IV tiap 8jam selama7 hr atau

c)      Preparat isoprinosin sebagai imunomudular atau

d)     Asiklovir parenteral atau preparat adenine orabinosid → berat → komplikasi pada alat dalam.

  1. pada episode rekurensi → tidak perlu diobati → karena bisa membalik → tapi dapat diobati dengan krim asiklovir.

(Arif Mansjoer, 2000 : 152)

 

4.   SIFILLIS               

a.       Pengertian

o       Sifilis adalah suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh treponema pallidum.

(M. William Schwarts, 2004 : 701)

b.       Tanda dan gejala

1. Sifilis primer (masa inkubasi 10hr-3bln)

a. pada laki-laki :

o    Timbul ulkus(Chancre) pada penis tapi tidak sakit, tepian timbul dan keras ( seperti kancing)

o    Mungkin ada pembesaran kelenjar limfe regional tapi tidak nyeri. Ulkus primer ini akan sembuh spontan, meninggalkan parut seumur hidup.

(Jan Tambayong, 2000 : 197)

b. pada perempuan :

o    Timbul ulkus (chancre) pada serviks

(F. Gary Cunningham,2001 : 1492)

2. Sifillis sekunder (4-10mgg)

o     Timbul kelainan kulit makulo-papuler → telapak tangan dan kaki

o     Pada genetalia → plak lebar agak meninggi → condilomaakuminata

o     Limfadenopati umum

o     Adenopati, demam, faringitis, malase

(M. William Schwarts, 2004 : 701)

3. Sifilis tersier

o     Semua organ dapat terserang, terutama otak (neurosifilis → dinensia dan perubahan perilaku) dan jantung

o     Interval dari infeksi menjadi neurosifilis  berkisar antara 20-30 tahun

o     Terjadi gumma (daerah nekrotis luas) di hati, tulang-tulang dan testes

(Jan Tambayong, 2000 : 197)

c.       Dampak pada kehamilan

Infeksi ibu dapat menyebabkan penularan transplasental ke janin pada setiap gestasi. Ibu dengan sifilis primer dan sekunder akan lebih mungkin menularkan infeksi dengan manifestasi lebuih berat yang terjadi pada janin.

Komponen infeksi sifilis bawaan dini antara lain :

o    Hidrops yang tidak imun

o    Hipatosplenomegali

o    Anemia

o    Trombositopenia yang hebat

o    Lesi kulit

o    Ruam

o    Ostertis

o    Periostitis

o    Pneumonia

o    Hepatitis

d.       Sifilis bawaan pada masa-masa akhir di diagnosa setelah umur 2 thn) merupakan penyakit multisistem yang ditandai dengan :

o    Kelainan gigi

      Gigi-gigi Hutchinson,’mulberry molars’

      Saber shine (tulang kering pedang)

o    Kerusakan pada septum nasal yang menyebabkan suatu hidung sadel : kerakitis, interstisial, tuli saraf delapan

o    Kegagalan pertumbuhan

(Neville F.Hacker,2001: 199)

e.       Penegakan diagnosa

Diagnosa serologic sifilis umumnya ditegakkan dengan melakukan 2 tipe pemeriksaan yaitu :

o       Pemeriksaan antibody non treponema → VDRL atau RPN dilakukan dengan pemeriksaan dilusi serum serial, hal ini penting karena terdapat lesi klinis yang berkaitan dengan peningkatan titer pada pemeriksaan nontreponema.

o       Pemeriksaan anti bodi treponema → FTA-ABS, MHA-TP

(M. William Schwarts, 2004 : 699-700)

f.         Terapi

o       Terapi sifilis pada kehamilan sama seperti terapi pada keadaan tidak hamil.

(terapi yang dipilih adalah penisilin G)

o       Pada pasien dengan sifilis primer, sekunder atau laten yang berlangsung < dari 12 bulan menggunakan terapi dosis tunggal benzatin penisilin : 2,4 juta unit yang dilakukan secara intramuscular (IM)

o       Pasien dengan sifilis laten yang lebih lama dari satu tahun diberi terapi mingguan ini selama 3 minggu.

5.   KANDIDOSIS VAGINAL

a.       Definisi

Kandidosis vaginal adalah penyakit jamur yang yang bersifatakut atau sub akut pada vagina danatau vulva dan disebabkan oleh kandida, biasanya oleh C. albicans.

(Arif Mansjoer, 2000 : 150)

b.      Faktor predisposisi

1.      factor endogen, yaitu :

o       perubahan fisiologik, seperti kehamilan, kegemukan, debilitas, endokrinopati dan penyakit kronik

o       umur, misalnya orang tua dan bayi lebih mudah terkena

o       imunologik / penyakit genetik

2.      factor eksogen, antara lain :

o       iklim, panas dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat

o       kebersihan kulit

o       kontak dengan pasien

o       latrogenik, misaldengan penggunaan antibiotic jangka panjang

c.       Tanda dan gejala

        Tanda

o       Radang

o       Disertai maserasi

o       Pseudomembran

o       Fisura

o       Lesi satelit papulopustular

        Gejala

o       Gatal

o       Biasa disertai keputihan

o       Tidak berbau / berbau asam

o       Jumlah biasa banyak

o       Berwarna putih keju, seperti kepala susu / krim atau seperti susu pecah

o       Pada dinding vagina biasanya dijumpai gumpalan keju ( cottage cheeses) yang menenpel

d.      Dampak pada kehamilan

Infeksi pada bayi saat dilahirkan, seringkali terbatas pada bagian mulut dan daerah yang ditutupi popok.

1.      kandidosis oral ( sariawan / stomatitis )

tanda dan gejala :

o       plak putih pada mukosa oral, gusi dan lidah

o       tidak bisa dibersihkan

o       cenderung berdarah bila disentuh

o       kesulitan menelan

factor predisposisi :

o       bayi yang sakit, lemah / mendapat terapi antibiotic

o       bayi yang mengalami celah bibir / celah palatum, neoplasma dan hiper paratiroid

penanganan :

o       mengolesi lesi dengan larutan gentian violet cair ( 1% – 2%)

o       nistatin dimasukkan ke dalam mulut bayi dengan alat tetes yang sebelumnya dibersihkan dulu

2.      candidal diaper dermatitis

terlihat pada daerah perianal,lipatan inguinal dan di bagian abdomen yang lebih rendah.

Tanda dan gejala :

o       mengalami eritema hebat

o       dengan garis tajam

o       pinggir bergerigi

o       seringkali disertai berbagai lesi kecil yang meluasdiluar lesi yang lebih besar

Sumber infeksi :

o       melewati traktus gastrointestinal

Penanganan :

o       mengoles salep anti jamur (seperti nistantin) tiap ganti popok

e.       Pemeriksaan penunjang

Pada pemeriksaan mikroskopik secret vagina dengan sediaan basah KOH 10 % dapat terlihat adanya bentuk ragi (yeast form) : blastospora dan pseudohifa (seperti sosis panjang bersambung). Dengan pewarnaan gram dapat ditemukan pseudohifa yang bersifat gram positif dan blastospora.

f.        Diagnosis

Ditegakkan berdasar pada manifestasi klinis dan pemeriksaan mikroskopik.

g.       Penatalaksanaan

1. topical, gunakan :

o       Mikonazol /klotrimazol 200 mg intra vaginal/hari selama 3 hari

o       Klotrimazol 500mg intravaginal dosis tunggal

o       Nistatin 100.000 IU intravaginal / hari selama 14hari

o       Untuk vulva dapat diberikrim klotrimazol 1 % / mikonazol 2 % selama 7 – 14 hari atau salep tiokonazol 6,5 % sekali oles

o       Untuk wanita hamil hanya dapat diberikan preparat azol topical selama 7 hari

2. sistemik

o        Dapat digunakan ketokonazol denga dosis 2 x 200 mg selama 5 hari (untuk dewasa)

(Arif Mansjoer jilid 2,2000 : 150-151)

6.   AIDS

a.       Pengertian

AIDA (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodefisiency Virus (HIV)

(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 162)

 

 

b.      Etiologi

Lymphadenopaty associated virus (LAV), human T cell leukemia virus III (HTLV III), human T cell lympho tropic virus. Virus ini ditemukan pada monyet hijau di Afrika sekitar 70 %, tetapi tidak menimbulkan penyakit.

(Manuaba, 1999 : 44-45)

c.       Faktor risiko penularan HIV

o       Memiliki banyak pasangan seksual

o       Menyalahgunakan obat intravena

o       Memiliki pasangan seksual dari penyalahgunaan obat intravena

o       Memiliki pasangan seksual dari orang yang terinfeksi HIV

o       Pelacuran

o       Transfusi sebelum  1985

o       Memiliki riwayat penyakit yang ditularkan lewat kontak seksual (terutama ulseratif)

o       Lahir di atau pasangan seksualnya lahir di afrika atau karibia

(Neville F. Hacker, 2002 : 118)

 

d.      Epidemiologi

Di Indonesia kasus AIDS pertama kali ditemukan pada tanggal 5 April 1987 di Bali pada seorang wisata Belanda. Menurut Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Depkes RI, jumlah kumulatif kasus HIV / AIDS (+) per Januari 2000 adalah 1080 kasus yang terdiri dari 794 kasus HIV (+) dan  286 kasus AIDS.

(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 163)

e.       Patogenesis

Masuknya HIV ke dalam tubuh manusia terutama melalui darah, semen dan secret vagina serta transmisi dariibu ke anak.penularan HIV melalui 3 cara yaitu :

o       Hubungan seksual, baik secara vaginal,oral, maupun anal denag seorang pengidap. Cara ini paling umum terjadi, meliputi 80-90 % totalkasus sedunia.

o       Kontak langsung dengan darah, produk darah atau jarum suntik. Transfusi darah / produk darah yang tercemar mempunyai factor resiko sampai > 90 %. Ditemukan 3-5 % total kasus sedunia.

o       Transmisi secara vertical dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya melalui plasenta. Resiko penularan 25-40 % dan terdapat < 0,1% total kasus sedunia.

(Arif Mansjoer jilid 2,2000 : 163)

f.        Manifestasi klinis

1. keganasan

o    Sarcoma Kaposi

o    Limfoma burkit

o    Limfoma imunoblastik

o    Limfoma primer pada otak

o    Kanker leher rahim invasive

o    Penurunan imunitas yang hebat

2. infeksi oportunistik

o    Kandidosis pada bronkus, trachea atau paru

o    Kandidosis pada esophagus

o    Kniptokokosis ekstrapulmoner

o    Koksidiodomikosis diseminata atau ekstrapulmoner

o    Kriptosporidiosis pada usus bersifat kronis (lebih dari 1 bulan)

o    Toksoplasmosis pada otak

o    Histoplasmosis (diseminata atau ekstrapulmoner )

(Arif Mansjoer jilid 2,2000 : 164)

g.       Pemeriksaan penunjsng

Diagnosislaboratorium dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

        cara langsung

isolasi virus dari sample. Umumnya menggunakan mikroskop electron dan deteksi antigen virus. Salah satu cara deteksi antigen virus adalah dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Penggunaan PCR antara lain untuk :

o       tes HIV pada bayi karena zat anti dari ibu masih ada pada bayi sehingga menghambat pemeriksaan serologis

o       menetapkan status infeksi pada individu seronegatif

o       tes pada kelompok resiko tinggi sebelum terjadi serokonversi

o       tes konfirmasi untuk HIV-2 sebab sensitifitas ELISA untuk HIV-2 rendah

        carat tidak langsung

o       ELISA sensitifitasnya tinggi (98,1-100 %). Biasanya memberikan hasil positif 2-3 bulan sesudah infeksi. Hasil positif, harus dikonfirmasikan dengan pemeriksaan Western Blot.

o       Western Blot, sensitifitasnya tinggi (99,6-100 %). Pemeriksaan ini cukup sulit, mahal dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Mutlak diperlukan untuk konfirmasi hasil pemeriksaan ELISA positif.

o       Immunofluorescent assay (IFA)

o       Radioimmunopraecipitation assay (RIPA)

(Arif Mansjoer jilid 2,2000 : 164)

h.       Perawatan dan penanganan wanita yang terinfeksi HIV sebelum dan selama persalinan

o       Persalinan di RS setempat yang mengetahui pasien

o       Penentuan tatacara persalinan yang diharapkan

o       Set partus untuk HIV selalu tersedia

o       Hindari tindakan infasif pada ibu dan janin jangan memasang elektroda kepada kepala dan jika mungkin jangan melakukan episiotomi atau persalinan pervaginam  secara operatif

o       Peralatan aspirasi oleh janin 

o       Perawatan khusus saat memotong tali pusat dan pelahiran plasenta : serologi pada daerah tali pusat dan menentukan adanya virus

o       Lakukan desinfektan secara cermat

(Thomas Rabe, 2002 : 118)

7.   ULKUS MOLE

a.       Pengertian

Ulkus mole adalah penyakit infeksi pada kelamin yang akut, setempat, disebabkan oleh haemopilus ducrey.

(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 158)

b.      Etiologi

Disebabkan oleh haemopilus ducrey

(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 158)

c.       Manifestasi klinis

Masa inkubasi berkisar diantara 1-14 hari, pada umumnya kurang dari 7 hari. Lesi kebanyakan multiple, biasanya di daerah genital. Mula-mula kelainan kulit berupa papul kemudian menjadi vesiko-pustul pada tempat inokulasi, cepat pecah menjadi ulkus.

Tanda dan gejala :

○     Ulkus yang multiple4

○     Nyeri pada tempat inokulasi

○     Sering disertai penanahan kelenjar getah bening regional

Ulkus pada wanita tidak senyeri laki-laki, berupa :

○     Disuria

○     Nyeri pada waktu defekasi

○     Dispareunia

○     Atau duh tubuh vagina

d.      Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan sediaan apus diambil dari permukaan tepi ulkus yang bergaung, dengan pewarnaan gram, Unna-Pappenheim, Wright atau Giemsa ditemukan basil berkelompok atau berderet seperti rantai

Biakan kuman dengan bahan diambil dari pus bubo atau lesi, kemudian ditanam pada perbenihan / plat agar khusus, yaitu agar gonokok dan Muller Hinton.

Dapat pula dilakukan tes imunofluoresensi, biopsy, tes kulit ito-Reenstieina, dan autoinokulasi.

e.       Komplikasi

Dapat timbul mixed chancre, abses kelenjar inguinal, fimosis, parafimosis, fistula urethra dan infeksi campuran. Bila terjadi infeksi campuran dengan treponema pallidum disebut ulkus mikstum : mulanya menunjukkan gambaran ulkus mole tetapi semakin berkurang nyerinya dan lebih berindurasi.

f.        Diagnosis

Berdasarkan pada riwayat pasien, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium untuk menentukan agen penyebabnya. Harus juga dipikirkan kemungkinan infeksi campuran. Pemeriksaan serologic dapat dilakukan, untuk menyingkirkan sifillis.

g.       Penatalaksanaan

1.      Medikamentosa

Pengobatan sistemik dapat diberikan salah satu obat di bawah ini :

○     Siprofoksasin * 500 mg per oral dosis tunggal

○     Ofloksasin * 400 mg per oral dosis tunggal

○     Azitromisin 1 gram per oral dosis tunggal

○     Eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 7 hari

○     Seftriakson 250 mg injeksi IM sebagai dosis tunggal

○     Trimetropim – sulfametoksasol 80-400 mg, 2×2 tablet peroral selama 7 hari

(*) kontra indikasi untuk wanita hamil, menyusui dan anak kurang dari 12 tahun

Sebagai pengobatan likal dapat dilakukan kompres, rendam atau irigasi dengan larutan salin yang akan membantu menghilangkan debris nekrotik dan mempercepat penyembuhan ulkus

Antseptik local merupakan kontra indikasi karena dapat mengganggu pemeriksaan untuk diagnosis dini sifillis dengan mikroskop kepang gelap.

2.      Nonmedikamentosa

Menberikan pendidikan pada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut :

○     Bahaya PMS dan komplikasinya

○     Pentuingnya mematuhi pengobatan yang diberikan

○     Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya

○     Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat menghindari lagi

○     Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang

(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 158-160)

8.   KONDILOMA AKUMINATA

a.       Definisi

Kondiloma akuminata adalah vegetasi oleh virus papiloma humanus (VPH) tipe tertentu, bertangkai dan permukaannya berjonjot.

(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 157)

b.       Etiologi

Virus papiloma humanus (VPH), virus DNA yang tergolong dalam famili Papova. Tipe yang pernah ditemui adalah tipe 6, 11, 16, 18, 30, 31, 33, 35, 39, 41, 42, 44, 51, 52 dan 56. tipe 6 dan 11 tersering dijumpai pada kondiloma akuminatum dan neoplasia intraepithelial serviks ringan. Tipe 16 dan 18 mempunyai potensi keganasan yang tinggi dan sering dijumpai pada kanker serviks. Sampai saat ini sudah dapat diidentifikasikan 80 ntipe virus papioma humanus.

(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 157)

c.       Patogenesis

VPH masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit sehingga kondiloma akuminatum sering timbul pada daerah yang mudah mengalami trauma pada saat berhubungan seksual.

(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 157)

d.       Manifestasi klinis

Masa inkubasi dan terjadinya lesi antara 1 sampai 3 bulan. Karakteristik lesi seperti kembang kol dan terletak pada introitus, vulva atau rectum.

(Jan Tambayong, 2000 : 200)

Masa inkubasi berlangsung antara 1-8 bulan (rata-rata 2-3 bulan). Terutama mengenai daerah yang lembab, misalnya daerah genetalia eksterna. Pada pria dapat mengenai perineum, sekitar anus, sulkus koronarius, glans penis. Muara uretra eksterna, korpus dan pangkal penis. Pada wanita di daerah vulva dan sekitarnya, introitus vagina, kadang-kadang pada portio uteri. Adanya fluor albus dan kehamilan dapat mempercepat pertumbuhan penyakit.

Kelainan yang baru berupa vegetasi bertangkai dan kemerahan lalu menjadi kehitaman , permukaan berjonjot (palilomatosa). Bila infeksi menjadi keabu-abuan

(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 157)

e.       Diagnosis banding

Veruka vulgaris, kondiloma latum dan karsinoma sel skuamosa.

(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 157)

 

 

f.         Penatalaksanaan

Dapat dilakukan dengan kemoterapi, bedah listrik, bedah beku, bedah scalpel, laser CO2, interferon da

2.10. STRATEGI PEMECAHAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL

Pencegahan terhadap PMS mencangkup 3 tingkatan pencegahan yaitu:
1. Pencegahan primer, ditujukan untuk mencegah penyakit mencangkup hal-hal sebagai berikut:

  1. Memberikan pendidikan kepada individu-individu yang tidak terinfeksi sehingga dapat menghindar dari individu yang terinfeksi
  2.  Identifikasi dan mengobati individu yang terinfeksi tanpa gejala.
  3. Wawancara pasien yang terinfeksi untuk identifikasi kontak.
  4. Melakukan pemeriksaan dan pengobatan pencegahanpada individu yang kontak.
    1. Anjurkan untuk berpatisipasi pada program pengawasan.
      2. Pencegahan sekunder yaitu: untuk mencegah terjadinya komplikasi PMS seperti : PID pad waktu dengan GO.
      3. Pencegahan tertier, berfokus untuk menurunkan efek dari komplikasi seperti : steril atau mandul.
      Pendidikan Kesehatan
      Pendidikan kesehatan terhadap individu yang tidak terinfeksi sangat efektif dilakukan melalui sekolah-sekolah dan kelompok masyarakat remaja dan dewasa muda
      Di klinik, untuk pasien yang pertama kali mengalami PMS akan merasa takut, berdosa dan tidak aman, sehingga perlu pendekatan psikologis sosial. Pendidikan kesehatan yang diberikan di klinik mencangkup : cara kerja obat, durasi, efektif, efek samping, keuntungan dan kunjungan ulang, kegagalan pengobatan akan menyebabkan remfeksi juga diberi informasi tentang : cara transmisi penyakit, proses reinfeksi, hentikan hubungan seksual jika mungkin, jika tidak bisa mengamankan kondom.
      Untuk perawatan diri perlu diinformasikan tentang hal-hal sebagai berikut:
      1. cuci tangan dan mandi dalam frekuensi sering.
      2. Jangan lakukan (kotraindikasi) douching kecuali untuk pemberian obat-obatan.
      3. Pergunakan pakaian dalam dari katun.
      4. Jangan mempergunakan lotion, cream, minyak pada luka kecuali diprogramkan.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
PMS biasanya ditularkan dari satu orang kepada orang lainnya melalui hubungan heteroseksual, homoseksual atau kontak intim melalui genitalia, mulut atau rectum.Beberapa penyakit menular seksual yang dibahas didalam makalah ini mencangkup Gonorhea, Syiphillis, Herpes genital dan HIV /AIDS
Didalam makalah dijelaskan penyebab dan tanda-tanda atau gejala dan penyakit menular seksual antara lain pengeluaran cairan yang tidak normal dan saluran kencing atau liang senggama (berbau amis, keputihan yang banyak sekali) rasa nyeri atau sakit pada saat kencing atau saat berhubungan seksual, lecet, luka kecil yang disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening,dll.Adapun pencegahan atau penanggulangan PMS tergantung dari jenis-jenis PMS yang dijelaskan.

3.2. Saran
Penulis mengharapkan agar mahasiswa dapat mengetahui dan memanfaatkan makalah ini untuk menambah wawasan dalam penyakit menular seksual dan dapat dicegah atau ditanggulangi di lingkungan masyarakat.

\

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham,F.Gary.2001.Obstetri William.Jakarta:EGC

Glasier,Anna.2005.Keluarga Berencana & Kesehatan Reproduksi.Jakarta:EGC

Hacker,Neville F.2001.Esensial Obstetri dan Ginekologi.Jakarta:EGC

Jduanda,Adhi.2007.Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.Jakarta:EGC

Manuaba,Ida Ayu Chandranita.1999.Ilmu Kebidanan dan Penyait Kandungan.Jakarta:EGC

Stanhope,Marcia.1997.Keperawatan Komunitas dan Kesehatan Rumah.Jakarta:EGC

http://tyovillage.blogspot.com/2011/04/mengidentifikasi-masalah-kebidanan-di.html

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: